Langsung ke konten utama

Let's Talk About #LGBT

Belakangan ini dunia dikejutkan dengan dilegalkannya pernikahan sesama jenis di seluruh negara bagian AS (Amerika Serikat). Presiden Barack Obama dengan bangga mengumumkan kepada publik AS bahwa LGBT legal disana, dan tidak sedikit pihak perusahaan-perusahaan besar di dunia berbagai bidang ikut merayakannya. Tidak hanya itu, sosial media seperti Facebook dan Twitter pun mengajak merayakan hal ini dengan memasang PP (Profile Picture) bendera pelangi yang menjadi simbol LGBT dan menggunakan tagar #CelebratePride.



 Ket: Beberapa perusahaan dan sosial media yang menyambut gembira keputusan dilegalkannya pernikahan sesama jenis (LGBT)



LGBT merupakan sebuah akronim dari Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender. Akronim ini dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman "budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender". Akronim LGBT kadang-kadang digunakan di Amerika Serikat dimulai dari sekitar tahun 1988. Baru pada tahun 1990-an istilah ini banyak digunakan. Walaupun singkatan LGBT tidak meliputi komunitas yang lebih kecil, akronim ini secara umum dianggap mewakili kaum yang tidak disebutkan. Secara keseluruhan, penggunaan istilah LGBT telah membantu mengantarkan orang-orang yang terpinggirkan ke komunitas umum.

Namun, seperti yang kita ketahui bersama, kelompok LGBT ini merupakan sebuah kelompok yang berada diantara kelompok putih dan hitam, yakni ada pada wilayah abu-abu. Mari kita tinggalkan Amerika Serikat karena mereka telah melegalkan LGBT ini, sekarang mari kita berbicara hal ini di Indonesia. Indonesia seperti yang kita semua ketahui, mempunyai beragam suku, bahasa, budaya, dan juga agama. Tapi seluruh kemajemukan itu dapat bersatu karena asas Pancasila. Di Indonesia sudah pasti LGBT ini dianggap sebuah kesalahan karena menyimpang dari ajaran agama baik itu Muslim maupun Non-Muslim.

Memang menjadi sebuah debat yang tidak akan usai apabila membicarakan apakah LGBT ini salah atau tidak. Menurut ajaran agama (semua agama yang diakui di Indonesia) pernikahan antar sesama jenis adalah sebuah hal yang dilarang dan tidak ada satupun agama yang mendukung hal tersebut.

Sebagai orang yang beriman dan juga berpikiran modern, kita boleh bebas berpendapat mengenai kaum LGBT ini. Namun, perlu diketahui juga bahwa di Indonesia belum ada peraturan secara hukum yang mengatur mengenai hal ini, oleh karena itu secara tidak langsung di Indonesia, LGBT ini masih "legal". Mungkin saja, karena di Indonesia ini pemerintah menganggap sudah ada media yang mengatur hal ini, yakni agama.


Salah satu kutipan artikel yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang "legal" LGBT


Namun, bagi mereka kaum LGBT, hal yang mereka rasakan adalah sebuah hal yang "normal", sama seperti kita orang biasa yang merasakan jatuh cinta atau suka dengan lawan jenis. Bedanya adalah mereka dengan sesama jenis. Apakah hal seperti itu dapat disembuhkan? Menurut saya, LGBT ini bukanlah sebuah penyakit, melainkan dosa. Apa yang dibutuhkan oleh seorang yang berdosa? Kasih Sayang dari orang sekitar. Bentuk kasih sayang pun dapat disampaikan dalam berbagai macam bentuk, seperti Doa, Sikap Peduli, bahkan terkadang Kata-Kata Keras pun dapat menjadi sebuah bentuk kasih sayang. Di Indonesia, kita semua tahu bahwa ada banyak kaum LGBT namun mereka tidak berani menampakkan diri di masyarakat. Mereka hanya terbuka pada orang yang benar-benar mereka percaya.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama aware bahwa kekerasan dan bully terhadap kaum LGBT ini bukan malah memperbaiki suasana, tapi malah semakin mereka tertutup dan malah diam-diam akan semakin menjadi. Kita tentu tidak setuju dan tidak mendukung LGBT, tapi setidaknya marilah kita coba "menyembuhkan" mereka dengan berbagai bentuk kasih sayang.

"Love The Sinners, Hate The Sin Itself"

-Michael-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Pertelevisian Kita

Sinetron, mungkin acara televisi inilah yang paling banyak disaksikan oleh masyarakat, baik muda maupun dewasa. Hal ini terlihat dengan banyaknya jumlah sinetron yang ditayangkan di sejumlah stasiun televisi di Indonesia. Saking banyaknya mungkin kita tidak ingat judul-judul dari sinetron tersebut. Dampak dari sinetron ini juga seringkali dikeluhkan oleh para orang tua karena merupakan sesuatu yang negatif.

Boleh Saja Membantu, Asalkan...

Membantu orang yang sedang mengalami kesulitan baik di dalam segi apapun itu pasti akan mendapatkan pahala yang setimpal. Oleh karena itu orang-orang yang mampu untuk membantu pasti ingin sekali melakukan hal yang seharusnya dilakukan kepada orang yang sedang kesusahan. Sekitar 2 hari yang lalu saya membaca sebuah berita mengenai seorang kakek di Sidoarjo yang sudah tua renta, menderita penyakit stroke , namun masih bekerja keras mencari nafkah dengan cara menghibur orang di balik kostum badut karakter Winnie The Pooh . Dia setiap hari tanpa kenal lelah bergerak dengan tubuhnya yang diserang stroke demi mendapatkan perhatian dari pengguna jalan dan mendapatkan secercah harapan berupa uang yang dapat menghidupinya. Namun betapa terkejutnya saya pada hari ini, 16 Juni 2015, 2 hari setelah saya membaca berita tersebut, muncul lagi berita mengenai kakek ini. Tapi yang diberitakan bukan karena dia menarik perhatian orang-orang agar membantunya, malah ternyata dia adalah seorang pen...

Go-Jek, Innovative yet Vulnerable to Hostility

Hello, whoever it is, ga kerasa udah lama BANGET ga nulis, ini pertama kali nya kembali nulis di blog setelah non aktif kurang lebih 5 tahun. Hasrat yang terpendam ini tiba-tiba kembali muncul. Dan kali ini saya ingin membahas soal Go-Jek, sebuah jasa yang menawarkan berbagai macam bentuk, mulai dari mengantarkan kita dari satu tempat ke tempat lain, membelikan kita makanan, ataupun mengantarkan barang sampai ke tempat tujuan. Namun kali ini saya tidak mau membahas soal Go-Jek ini secara mendalam, karena ada satu hal yang menurut saya miris, Go-Jek ini merupakan sebuah inovasi dan juga menciptakan lapangan kerja, namun kenapa bisa terjadi hal yang menurut saya janggal.